A Text Widget

DON'T LOOK AT ME LIKE THAT, HONEY.
blog ini sudah suci. jangan maki saya lagi.

1/25/13

Malam Biasa, 20:42 WIB.

itu hanya malam yang biasa.
sambil berkaca, saya tengadah menahan leher yang gerah, memastikan kemolekan di wajah.

ini kencan pertama di awal tahun.
tahun yang masih membiarkan saya menjadi yang tak dianggap.
tahun yang masih membiarkan saya menjadi yang bukan kekasihnya.
tahun yang masih membiarkan saya menjadi yang hanya dipakai.
ini tahun biasa.

- Januari 23, 2013, 20:42 WIB.

25 Januari 2013
pagi baru.

1/5/13


Selangkang ini sudah terlalu lama ngangkang. Berganti-ganti orang. Tak satupun buat saya mengerang, yang ada malah berang.

12/25/12

WAP.


"Saya menatap matanya dalam-dalam. Ada ketakutan disana. Ada luka yang amat sangat. Saya harap ini bukan bencana. 

Saya menunggunya bicara. Bibirnya bergetar seraya menghembuskan asap rokok ke udara yang diam. Saya benci melihatnya seperti ini. Saya benci membuatnya seperti ini.

Ia membalas tatapan saya seperti menantang. 

Ia sedang melawan air matanya sendiri.

Banyak orang menganggap keberaniannya layak jadi panutan. Namun tak sedikit orang menganggapnya murahan. Ia memang murahan. Saya dapat membuatnya tenang hanya dengan kiriman uang setiap kali kami bercinta. Tidak, itu bukan bercinta. Karena saya tidak cinta, saya hanya kasihan, karena Ia yang cinta."

- E

11/27/12

DOA





Saya membuka mata, berhenti berdoa. Menduduki buah zakarnya yang menempel tepat dibawah vagina saya yang sedang meresap maninya.

Saya merenggut bantalnya. Menjambak rambutnya. Menampar pipinya. Menonjok perutnya. Mendorongnya dari atas tempat tidur hingga terjerembab ke lantai. Menginjak-injaknya. Memakinya berulang-ulang.


SETAN, SETAN, SETAN, SETAN, SETAAAAAAN!!!!!


Saya berdoa dalam hati. 
Berdoa sambil memukul-mukulnya yang terguling di lantai. Saya berdoa atas permintaan tak akan kembali ke neraka jahanam. Saya tak mau kembali pada setan.

- kamar kami, 27 November 2012, 2:03 AM

9/26/12

bertudung.

saya pandangi wajah saya benar-benar.
lekat-lekat.
saya melihat-Nya.
saya melihat-Nya!

seribu damai, seribu panggilan, seribu tangis saya serukan malam itu.
- Minggu, 26 September 2011

---------------------------------------------------------------------------------------


sepotong perasaan ketika bertemu Tuhan,
namun kembali mengkhianati-Nya.

sudah tahu hidup tak tenang, tetap saja menggunjing Tuhan.
- Minggu, 26 September 2012

8/21/12

453

453 hari yang lalu..
saya menekannya mati-matian.
mencium, dan meminta maaf pada kelamin sendiri. 

meyakinkan hati bahwa nanah hanya nanah biasa. 
bahwa nanah hanya ilusi belaka.
ini cukup menyebalkan. apalagi sang Dokter hanya bisa geleng kepala. sambil berkata, saya ini parah. jelas, saya makin marah.

"sayang, lonte mana yang kamu tiduri?"
tanya saya baik-baik. sumpah, saya tanya baik-baik. walau nanah masih terus menusuk vagina saya.
tapi E hanya memandang dengan nanar. seolah nanah ini tak berarti. seolah nanah ini bukan bukti. 

"Tuhan udah ngasih kita peringatan. terutama untuk kamu, pengkhianat." ucap saya lagi. E balik badan, tangannya yang dingin menarik wajah saya yang saat itu bisa melihat jelas ada air di pelupuk matanya. 

"aku tahu itu bukan penyangkalan. tapi bolehkah aku menyangkal atas ulahmu ini, E? bahagiakan aku atas hubungan kita.."


. . .
Tuhan, disela dosanya yang begitu hina, pun masih saya maafkan.
betapa cintanya aku, E.

4/23/12

kita sudah menikah. dan masih tak berani untuk lari.

9/23/11

Malam


          E menghantam tangan saya kencang. Ia terus menunjukkan kekecewaannya atas apa yang saya lakukan pada Ibunya. Saya tak berusaha membela diri. Saya tak berusaha sadar diri. Saya hanya ingin berdiri, agar ia tahu diri.

-----

          Itu malam yang panjang. Malam yang sunyi menyambung dini hari. Sangat lama kami terjebak dalam situasi seperti itu. Terjebak dalam percakapan buntu. Saya dan Ia membisu.

7/3/11

rumah.


Saya tidak pernah memintanya untuk menunggu, apalagi mencintai. Tapi saya tahu, ia mempersiapkan hidupnya untuk saya, untuk kenyamanan saya, kesenangan saya, agar sesuai dengan keinginan saya.

---

Ini tahun keenam, dan saya masih bersimbah peluh, tanpa bisa mengeluh.  Mencoba sadar dari wacana nyata bahwa pria yang tumbuh bersama saya ini telah genap empat bulan bersama kekasih barunya. Ini menyakitkan, atau kasihan, tapi saya harus ikut aturan, sampai lupa ingatan.
Saya mengeluarkan kemejanya dari lemari, lengkap dengan dasi, celana bahan, dan kaus kaki yang biasa jadi setelannya ke kantor. Ini rutinitas biasa, saya selalu membuatkannya sarapan di pagi hari, tak akan mengganggunya di siang hari, membuatkan kopi di malam hari, dan pergi setiap akhir minggu. Tidak, rutinitas pergi di akhir minggu baru saya lakukan dalam empat bulan ini, ketika E mengatakan “dia orang yang tepat”.
Tepat. Tolong bantu saya menelaah kata tepat. Menjabarkan semua makna dari kata tepat. Membuka cermin untuk kata tepat. Meminta kejujuran dari kata tepat. Membandingkan diri akan kata tepat. Haruskah saya menempatkan diri atas kata tepat? Atau tetap mencuri tempat untuk kata tepat?
“Oke”
Saya menjawab sambil memoles lipstik di meja rias. E memandang saya dari cermin, entahlah, entah apa maksudnya pandangan sendu itu. Jika ia pikir ini adalah saatnya kami bersedih, jelas ia salah, atau memang payah? Tapi yasudahlah, hubungan kami memang tak pernah bisa indah. Saya sudah cukup gerah dengan semua perdebatan yang kami persoalkan hingga tahun keenam ini.
“Besok aku akan cari tempat tinggal baru. Kamu juga.”
Saya membuka pembicaraan. Saya berusaha datar, meski E tahu hati saya gemetar. Topik perpisahan ini pernah kami bicarakan dua tahun yang lalu, dimana kami memutuskan untuk tinggal bersama dalam sebuah rumah yang kami beli dan isi dari tabungan kami berdua.
Rumah impian saya yang berdiri dari tembok batu-batu. Rumah impian saya yang dipenuhi ornamen jawa dan patung-patung victorian di setiap sudut. Rumah impian saya yang selalu menjadi pemberhentian terakhir dari setiap rencana. Tapi nyatanya, rumah impian ini tidak menjadi pemberhentian terakhir dari setiap rencana. Mungkin memang karena kami tidak berencana. Tidak pernah berani untuk merencanakan kebahagiaan. Atau memperjuangkan kebahagiaan.
“Aku nggak mau menjual rumah ini. Kamu boleh tempati.”
E membuat saya tersedak. Apa? Saya tempati?
“Kamu kira aku bersedia tinggal disini? Kamu bersama pecunmu dan aku disini terus dibayangi olehmu?! Anjing!”
Saya memakinya. Saya benci memaki. Tapi saya harus memaki, demi harga diri. Meski saya sudah tak punya harga diri, di depan orang yang saya cintai.
E berdiri mengambil setelannya yang telah saya siapkan, mengganti dan memakainya masih di tempat yang sama. Saya meringis, menahan tangis. Tapi E tak menggubris.

---

E mencium tengkuk saya dengan lembut. Memeluk, dan meremas payudara saya dengan kencang, hingga saya menggelincang. Saya berbalik dan balas memeluknya. Mendorongnya ke ranjang, mencium dadanya yang telanjang. Menarik dan menggigit bibirnya dengan gigitan kecil, ini membuatnya terasa seperti anak kecil, katanya, dan ia menyukainya.

Ini malam dimana kami harusnya berpisah. Malam dimana kami harusnya cari rumah. Tapi kami memang sudah lelah, tak ingin mengundang amarah, yang hanya membuat gerah, karena kami masih betah.

8/14/09

RENDAHKAH?

kita adalah kesempurnaan yang digarisbawahi keangkuhan.
diperkuat dengan api.
dan berada dalam kurung terendah.
silahkan rangkai menaramu.

ya, kita.
saya. anda. dan manusia-manusia lain.
tak lain adalah rendahan.
rendahan?

tolong jangan sinis dulu, anda baru baca dua paragraf. 
sekarang, terima saja dulu kalau kita memang rendahan.

menjalani hidup dengan bangga yang luar biasa pada diri sendiri,
berpeluk pada iblis.. rendah.
menertawakan saudara, yang padahal, sama bentuknya dengan dirinya.
menghina ciptaan-Nya.. rendah.
mencari-cari kenikmatan, tetapi lupa dan melupakan, untuk sujud.

sujud? ya. mencium tanah.
bukankah kita terbuat dari tanah? tanah yang kita sendiri injak.
lalu mengapa sangat susah membawa diri ini untuk mencintai diri kita yang asli?

sorry, apa sekarang anda sudah sadar siapa diri kita yang asli?

begini, 
saat kita memiliki kemudahan, kita memberi rezeki untuk sesama. 
sesama yang bekerja pada kita. 
kita bayar. kita upahi. kita bayar. kita upahi. 
saya telah mengulangi, ya.
semakin rajin bekerja, pada anda, semakin mudahlah si sesama meraih rezekinya, 
semakin makmurlah dia.

rezekinya? bukankah itu dari anda? bermula dari anda, bukan?
lalu apa yang anda katakan--dalam-hati--?
"inget ya sama gue, dari lo masih susah, gue yang bantu."
"lo-bawahan-gue. gue-bayar-lo."
"eh, lo kalo gue pecat, pendapatan darimana? jangan sok!"

nah, saya, anda, dan manusia-manusia lain, adalah si sesama yang bekerja kepada tuan!
tuan? TUHAN!

bahkan Ia tidak mempekerjakan kita, kita hanya menjalani film kita.
film kehidupan kita. nikmat sekali, ya?

kita selalu diberikan rezeki, bahkan sebelum kita memahami dengan dalam sifat-sifat Tuhan dan serba-serbinya. Ia tidak berpesan seperti kita diatas, karena Ia memiliki segala macam keagungan. Ia maha kuasa. kita adalah miliknya. apapun bisa Ia ambil dari kita. karena sekali lagi, kita dan segala milik kita, adalah milik-Nya. bayangkan, jika dalam satu jam, anda jatuh MISKIN, dan jiwa-pun, kering, karena tak dekat dengan Tuhan. menyedihkan.

padahal, untuk memperoleh surga sesuai janji-Nya, salah satunya, Ia hanya meminta kita mencium tanah 34 kali dalam sehari, yang tidak ada setengah dari satu hari yang diberikan-Nya, yang terus kita pakai untuk mencari pertahanan untuk hidup (kenikmatan).

Tuhan itu bertanggungjawab.
Ia menghidupkan kita, maka Ia pasti akan memberikan rizki-Nya kepada kita.
tapi sayangnya, jangankan rezeki ke surga, memenuhi permintaan-Nya yang amat mudah saja sangat sering kita sengaja tinggalkan.
jadi, bagaimana kita bisa dapatkan rezeki-kita selama film-kita berlangsung?

dapat kehidupan ini dari Tuhan. tapi lupa.
dapat segala harta ini dari Tuhan. tapi melupakan.
dapat banyak kenikmatan ini dari Tuhan. dan terus melupakan.
angkuh sekali.

menebar keangkuhan, meraih kehinaan.
hina? = rendah!

setiap detak nafas yang terhembus,
ialah pengurangan kesempatan untuk hidup.
setiap detak nafas yang terhembus,
telah sia-sia karena setiap helaannya seringkali lupa dimaknai oleh kita,
yang merasa akan hidup selamanya,
dan masuk surga.
padahal kita sudah tahu ada neraka,
tapi kita tutup mata.

well.. every passing moment is a chance to turn it all around.

kita bisa -bukan- menjadi:
manusia sempurna yang digarisbawahi = keangkuhan.
diperkuat dengan api = syaitan.
dan berada dalam kurung yang (rendah).
jadi, silahkan rangkai menaramu, ke manusia yang berderajat tinggi, menuju surga.

note:
terimakasih sudah membaca sampai paragraf terakhir. 
saya hanya menuliskan apa yang otak saya bicarakan daritadi, kok.
untuk posting selanjutnya, bisa saja topik tentang mengajak berdosa.
no offense, dear.

btw, saya adalah rendahan. dan saya tidak menunjuk anda, ya. 
dalam posting ini saya hanya berbicara kepada manusia lain yang satu spesies dengan saya.

salam.