kita adalah kesempurnaan yang digarisbawahi keangkuhan.
diperkuat dengan api.
dan berada dalam kurung terendah.
silahkan rangkai menaramu.
ya, kita.
saya. anda. dan manusia-manusia lain.
tak lain adalah rendahan.
rendahan?
tolong jangan sinis dulu, anda baru baca dua paragraf.
sekarang, terima saja dulu kalau kita memang rendahan.
menjalani hidup dengan bangga yang luar biasa pada diri sendiri,
berpeluk pada iblis.. rendah.
menertawakan saudara, yang padahal, sama bentuknya dengan dirinya.
menghina ciptaan-Nya.. rendah.
mencari-cari kenikmatan, tetapi lupa dan melupakan, untuk sujud.
sujud? ya. mencium tanah.
bukankah kita terbuat dari tanah? tanah yang kita sendiri injak.
lalu mengapa sangat susah membawa diri ini untuk mencintai diri kita yang asli?
sorry, apa sekarang anda sudah sadar siapa diri kita yang asli?
begini,
saat kita memiliki kemudahan, kita memberi rezeki untuk sesama.
sesama yang bekerja pada kita.
kita bayar. kita upahi. kita bayar. kita upahi.
saya telah mengulangi, ya.
semakin rajin bekerja, pada anda, semakin mudahlah si sesama meraih rezekinya,
semakin makmurlah dia.
rezekinya? bukankah itu dari anda? bermula dari anda, bukan?
lalu apa yang anda katakan--dalam-hati--?
"inget ya sama gue, dari lo masih susah, gue yang bantu."
"lo-bawahan-gue. gue-bayar-lo."
"eh, lo kalo gue pecat, pendapatan darimana? jangan sok!"
nah, saya, anda, dan manusia-manusia lain, adalah si sesama yang bekerja kepada tuan!
tuan? TUHAN!
bahkan Ia tidak mempekerjakan kita, kita hanya menjalani film kita.
film kehidupan kita. nikmat sekali, ya?
kita selalu diberikan rezeki, bahkan sebelum kita memahami dengan dalam sifat-sifat Tuhan dan serba-serbinya. Ia tidak berpesan seperti kita diatas, karena Ia memiliki segala macam keagungan. Ia maha kuasa. kita adalah miliknya. apapun bisa Ia ambil dari kita. karena sekali lagi, kita dan segala milik kita, adalah milik-Nya. bayangkan, jika dalam satu jam, anda jatuh MISKIN, dan jiwa-pun, kering, karena tak dekat dengan Tuhan. menyedihkan.
padahal, untuk memperoleh surga sesuai janji-Nya, salah satunya, Ia hanya meminta kita mencium tanah 34 kali dalam sehari, yang tidak ada setengah dari satu hari yang diberikan-Nya, yang terus kita pakai untuk mencari pertahanan untuk hidup (kenikmatan).
Tuhan itu bertanggungjawab.
Ia menghidupkan kita, maka Ia pasti akan memberikan rizki-Nya kepada kita.
tapi sayangnya, jangankan rezeki ke surga, memenuhi permintaan-Nya yang amat mudah saja sangat sering kita sengaja tinggalkan.
jadi, bagaimana kita bisa dapatkan rezeki-kita selama film-kita berlangsung?
dapat kehidupan ini dari Tuhan. tapi lupa.
dapat segala harta ini dari Tuhan. tapi melupakan.
dapat banyak kenikmatan ini dari Tuhan. dan terus melupakan.
angkuh sekali.
menebar keangkuhan, meraih kehinaan.
hina? = rendah!
setiap detak nafas yang terhembus,
ialah pengurangan kesempatan untuk hidup.
setiap detak nafas yang terhembus,
telah sia-sia karena setiap helaannya seringkali lupa dimaknai oleh kita,
yang merasa akan hidup selamanya,
dan masuk surga.
padahal kita sudah tahu ada neraka,
tapi kita tutup mata.
well.. every passing moment is a chance to turn it all around.
kita bisa -bukan- menjadi:
manusia sempurna yang digarisbawahi = keangkuhan.
diperkuat dengan api = syaitan.
dan berada dalam kurung yang (rendah).
jadi, silahkan rangkai menaramu, ke manusia yang berderajat tinggi, menuju surga.
note:
terimakasih sudah membaca sampai paragraf terakhir.
saya hanya menuliskan apa yang otak saya bicarakan daritadi, kok.
untuk posting selanjutnya, bisa saja topik tentang mengajak berdosa.
no offense, dear.
btw, saya adalah rendahan. dan saya tidak menunjuk anda, ya.
dalam posting ini saya hanya berbicara kepada manusia lain yang satu spesies dengan saya.
salam.