2/21/17

#DAY5 - WAP Dan Sebuah Pesakitan

#DAY5
Jakarta, 5 Januari 2017

9:36 PM
Ini hari kelima di tahun 2017. Tahun di mana WAP ingin bebas dari lelaki. Tahun di mana WAP harus bahagia dengan jari sendiri.

WAP membuka situs mobile banking. Mengecek status ketiga kartu kredit, karena saldo di ATM sudah melilit.

Kartu kredit 1: 98% mencapai limit.
Kartu kredit 2: 90% dari limit.
Kartu kredit 3: 70% dari limit.

Close.
WAP segera keluar dari browser, menutup laptop, merapikan meja dan keluar dari kantor, menuju mobilnya di parkir basement gedung.

Pandangannya kosong.

Hidup WAP memang dalam masa tegang, tapi WAP selalu pasang wajah tenang, karena harus tampil senang, di depan semua orang.

Komitmen menulis #30HariBercerita menguak banyak luka yang seharusnya sedang WAP tutup rapat-rapat di awal tahun ini.

Tulis, tidak, tulis, tidak, tulis.. kepalanya dipenuhi memori kesedihan.

Memori yang membawanya ke beberapa tempat asing, menjajaki banyak jenis lelaki, menghabiskan seluruh materi, hingga hampir jadi bayi.

Untung tidak STD.

Serangkaian pengalaman gila yang terjadi tanpa jeda, membuat WAP merasa seperti kuda. Dicambuk, dipaksa berlari, ditunggangi.. oleh peliharaannya sendiri.

WAP mengasihani diri.

"This love stuff.. is a motherfucker." WAP berbicara pelan, penuh kebencian.

WAP tidak percaya. Tidak percaya ia telah melakukan kekerasan mental pada diri sendiri, hanya demi menemukan cinta sejati.

Ya, cinta.
...
...
...
..


"Shit! Sudah jam 11.27 PM!" WAP tersadar dan segera menyalakan mesin. Ia semakin mengutuk dirinya, tak habis pikir telah melewatkan hampir 120 menit, di dalam mobil, hanya untuk melukai diri sendiri.

"BEEP!"
Notifikasi dari Instagram.

"Mana story for today? :)"
Pesan dari William.

WAP tersenyum, tak mau menyia-nyiakan waktunya lagi.

2/14/17

#DAY4 - Olander (3)



Pukul 3.30 Sore
"WAP, maaf membuatmu menunggu! Meeting berlangsung lama karena kami harus con-call dengan regional." Akhirnya Olander datang dan menjelaskan tanpa ba-bi-bu, wajahnya tampak khawatir.
"Ah It's okay.." Saya berusaha sabar, saya harus ingat, ia juga menunggu 22 jam.
"Dan.. aku minta maaf, aku harus menjemput Ibuku segera." Tambahnya.

WHAT??!
Kabar kali ini membuat saya kesal. Jadi, 4,5 jam tadi adalah sia-sia?
Baiklah, tarik napas. Saya punya waktu 2 jam hingga pukul 6, sebelum kembali ke bandara.
"Kamu bisa bukakan Waze untukku?" Tanyanya.
Saya mengangguk dan membuka ponselnya. Niat mencari simbol Waze, tombol Task Manager tak sengaja saya sentuh dan..
Ada Madi.
Ya, foto Madi.
"What's this??"
Saya tak menyembunyikan kekagetan. Saya langsung menampilkan foto Madi dan memperlihatkannya ke si pemilik ponsel.
Dalam foto tersebut, Madi tampak duduk di sofa hotel.
Olander menengok kaget, diam sejenak, Ia pun meminggirkan mobilnya.
"Bukankah aku yang harus bertanya?" Olander menjawab. Suaranya tenang.
Saya menarik napas. Sial, apakah saya sedang tertangkap basah?
"Jadi.. kamu tahu keadaan yang sebenarnya?"
"WAP, aku sudah berada di hotel sejak kamu mengangkat teleponku pukul 7 pagi." Ia tersenyum kecut.
"I know. I know you spent the night with him. A Persian guy."
Kami saling menatap. Hening.
"Dan membuatku menunggumu selama 4,5 jam adalah bentuk pembalasanmu?" Saya akhirnya bicara.
Olander menghela napas.
"Awalnya aku sempat berpikir untuk meninggalkanmu setelah meeting. Tapi aku punya hati. Karena aku adalah pria yang.. baik." Olander memberi penekanan saat ia mengucap 'baik'. Persetan.
"Ceritakan kronologinya."
"Ia duduk di depanku saat di lobby, dan ia menyebut namamu saat menelepon." Saya
menghela napas mendengar penjelasannya. Yeah, shit happens.
"Awalnya ia berbicara dalam Arabic atau Kurdish.. aku tak paham. Tapi di akhir telepon,
dia berbicara dengan bahasa Inggris." See? Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.
"I was totally wrong about you, WAP." Raut muka Olander penuh kekecewaan.
Shit.
Shit.
Shit.

"Mungkin.. Tuhan menyayangiku. Itulah mengapa ia menunjukkan kebenaran tentang dirimu." Olander memandang jalan, tak berani menatap mata saya.



#DAY3 - Olander (2)


"Percaya gak? Meski saya sering sekali ke Kuala Lumpur, saya tidak pernah ke KLCC." Saya membuka topik. Topik basi yang selalu saya sampaikan ke semua pria yang saya kenal di Kuala Lumpur.
Para pria tersebut pun merespon dengan jawaban serupa, identik. Seperti:
"Really? Ah sayang sekali kamu tidak lama di sini. Next time, aku akan antar kamu kemanapun!" jawab Olander.
"Snap it then! Snap!" Kemudian Ia menyuruh saya untuk mengabadikan si menara kembar di Snapchat. Kebiasaan saya yang sangat ia pahami betul.
Tapi sayang, kami menuju arah yang berlawanan.
Kami menuju kantor Olander, Ia punya janji meeting dengan rekan kerjanya dari pukul 11 hingga 1 siang. Ya, kami memang tak sempat menghabiskan waktu di hotel karena ternyata Olander harus cepat menghadiri meeting. Tentu saya tak keberatan untuk check out lebih awal. Menghilang 22 jam cukup membuat saya merasa punya banyak dosa padanya. Sisi positif lain, badan saya bisa istirahat.
Olander banyak menyanyi sepanjang perjalanan. Di waktu luang, ia memang aktif menjadi guru musik untuk genre Klasik, Neo Klasik hingga Old Pop.
"Everything that's classy, fits me". Itu yang dikatakannya.
Dibanding Madi, Olander memang lebih santai. Itulah mengapa saya datang ke Kuala Lumpur untuknya, awalnya.
Saya memilih untuk menunggunya di coffee shop terdekat. Ada waktu kosong selama 2 jam, terbesit niat untuk meminta seseorang agar datang.
Tapi saya urungkan niat. Tak ingin menjadi wanita yang terlalu jahat.

Pukul 12:00 Siang
Saya meneguk kopi kedua. Hanya 2 batang rokok tersisa, baterai ponsel pun sudah 15%. Bagaimana saya harus menghabiskan 60 menit kedepan? Bodohnya, novel yang dibawa malah saya taruh dalam koper, di mobil Olander.

Pukul 12.45 Siang
Tik
Tok
Tik
Tok
Saya mulai mengetuk meja. 15 menit lagi..

Pukul 1.15 Siang
Mana Olander?
Saya mulai khawatir, baterai ponsel sudah 9%.

Pukul 2.00 Siang

Pria Rusia itu tak juga menunjukkan batang hidungnya. Saya mulai berpikir barang apa saja yang saya tinggalkan di koper, di dalam mobilnya..

#DAY2 - Olander

"Olander! I'm sorry!"
"God, finally! What happened to you?"
"Everything is so messed up! Would you come to my hotel at 10? Please!"
"Sure, I'll be there. Please take care and be safe." Klik. Kami menutup telepon.
Damn, is that really him?
Tak ada perlawanan dari Olander.
Saya hilang 22 jam, dan Ia masih mau bertemu?
Ah, cukup. Jangan ambil pusing. Sekarang, saatnya mengusir Madi.

***



Pukul 7.30 Pagi
"Sayang, bangun. Ayo kita mandi, aku harus ke Pavi sebelum ke Bandara." Saya mengelus pipi Madi, matanya membuka perlahan dan..
"Let's do it in the shower." Madi beranjak dari tempat tidur dan menepuk kencang bokongku.
Oh, pria ini tak pernah kehabisan energi..

Pukul 8.30 Pagi
"We do it very well, WAP." Madi mencium belakang telingaku.
"We're a perfect match." Ia menambahkan.
"Oh, sure. Our sex." Saya merespon spontan.
Ini benar. Kami memang cocok. Madi benar-benar memberikan kehidupan seks yang sehat untuk saya.
"Not only about sex. I told you I have a feeling."
Madi memutar kedua bola matanya.
Saya diam.
Saya tahu dia takut saya marah. Kata komitmen menjadi begitu berat bagi kami, karena masalah ras, budaya dan keluarga, meski kami satu Tuhan.
Madi masih menatap saya. Mengerutkan kening, ada riak kemarahan yang mulai bergejolak.
BaiKuala Lumpurah, saatnya memberi kemenangan. Inilah hidup. Terkadang, kita harus menghargai kepalsuan. Maka, mari jawab dengan:
"Aku bercanda, sayang. Tentu saja. Aku juga nyaman sama kamu. Aku ke Kuala Lumpur hanya untuk bertemu kamu." Saya ingin muntah, tapi hal yang saya lakukan adalah sebaliknya.
Saya mencium keningnya dengan cepat, berlanjut ke pipi kirinya, pipi kanan, dan bibir. Hal sama yang saya lakukan pada setiap pria, jika mereka butuh bukti cinta. Hah!
"Ah.. My driver just arrived." Pesan di ponsel Madi mendistraksi. Syukurlah.
"Take care baby."
"You, take care. Yakin kamu tidak ingin diantar ke bandara?"
"Tidak perlu, aku harus ke Pavilion membeli pesanan oleh-oleh untuk temanku."
"Oke. Kabari jika kamu membutuhkan sesuatu."
"Pasti." Madi mencium kening, kemudian pergi.
Saya menarik napas panjang, merapikan tempat tidur, beranjak ke kamar mandi, menyiapkan lingerie kedua, dan mencari cairan antiseptik.

Okay Olander, I'm ready.

#DAY1 - Madi



"Love brought us here" Madi menatap dalam. Tangannya mengelus dan meremas kuat pundak saya dengan kencang.
Saya diam. Tak ingin menjawab, karena tahu ini hanyalah basa-basi, karena urusan birahi sudah terpenuhi.
Apa dia bilang? Love?
That wasn't love, that was sex.
Saya tak habis pikir mengapa ia harus mengucapkan omong kosong itu, pada wanita seperti saya.
"Kamu harus kembali ke apartemenmu, kan?" Saya mengalihkan pembicaraan. Tak menggubris pernyataan emosional yang baru saja disampaikan oleh lelaki tampan asal Timur Tengah ini.
"Aku belum tidur dua hari. Biarkan aku tidur sebentar." Madi beranjak dari sun-bednya, mengambil handuk, dan memberikannya kepada saya. Mengajak agar kami kembali ke kamar.
Sial. Ini diluar rencana. Saya panik luar biasa. Bagaimana tidak? Ini sudah jam empat, dan saya sudah punya janji lain dengan orang yang tak kalah menjanjikan.
"Beep Beep!" Handphone saya berbunyi, saya membukanya dengan cepat, agar Madi tak sempat lihat.
Layar ponsel menunjukkan nama "Olander".
Shit, pria Rusia ini mulai menelepon. Saya berlari ke kamar mandi.
Angkat
Tidak
Angkat
Tidak
Angkat.. Saya langsung mematikan ponsel.
Persetan mau dibilang apa.

Pukul 4:00 Pagi
Keadaan memaksa saya untuk kembali ke tempat tidur, memeluk Madi, memberikan sepenuhnya badan. Saya siap untuk tiga ronde kedepan.

Pukul 5:00 Pagi
Saya menelan puncaknya di penghabisan. Sungguh, ini diluar perkiraan. Ini sudah yang kedelapan.

Pukul 7:00 Pagi
Saya jatuh di kegelapan, tersungkur. Terperosok jauh ke salam sumur. Meluncur, terkubur bersama indahnya kenangan, akan sepasang mata yang mendebarkan.

"WAP!" Olander memanggil, suaranya cukup keras untuk membuat saya terlonjak bangun.
Saya membuka mata, masih ada Madi yang tertidur lelap. Tangannya memeluk erat.
Shit, ini sudah hari kedua, dan saya harus check out jam dua. Saya bergegas untuk mengaktifkan ponsel, dan harus mengusir Madi agar cepat pergi.
"BEEP! BEEP!" Panggilan masuk dari Olander.
Astaga, apakah pria ini benar-benar tak berhenti menelepon sejak pukul 4 kemarin? Baiklah, saya mengangkat telepon, menelan ludah, 3.. 2.. 1.. ACTION.